Rabu, 31 Desember 2014

Analisis Kasus Berdasarkan Pada Teori Psikologi Positif (Viktor Frankl)

Analisis Kasus Berdasarkan Pada Teori Psikologi Positif (Viktor Frankl)

I.  KASUS
Ibu Esra berusia 47 tahun dan sehari-hari bekerja sebagai seorang petani. Dia memiliki 3 orang anak; dua orang anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Ibu Esra hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa tanpa hal berlebih.
Jalan hidup yang harus dihadapi oleh ibu Esra tidaklah mudah, bahkan analogi jalan berkerikil dan berlubang pun tidak dapat disandingkan dengan apa yang dialaminya didalam kehidupan. Dia harus menghidupi ketiga orang anaknya sendiri tanpa seorang suami yang sehearusnya menghidupi istri dan anaknya, tanpa ‘gubuk hangat’ yang dapat menjaga dari serangan hujan badai, atau bahkan tanpa seorang ‘Mario Teguh’ tempat bertukar pikiran saat persoalan datang menerpa.
Ya, suami ibu Esra telah lama meninngal dunia, hal ini menyisakan luka yang sangat mendalam bagi ibu Esra dan keluarganya. Suami ibu Esra meninggal akibat kecelakaan lalu lintas pada saat mengemudi mobil, ketika itu anak ketiga ibu Esra masih berusia 4 bulan. Hal yang menyedihkan adalah dihari ketika suaminya hendak dikuburkan, dihari tersebut pula anak ketiga ibu Esra dibaptiskan di Gereja, ibu Esra akhirnya mengambil keputusan untuk pergi ke gereja dengan menggendong bayinya untuk menerima baptisan kudus sejenak, lalu segera pulang ke rumah untuk melakukan prosesi penguburan suami tercinta.
Inilah awal dari perjalanan hidup yang sangat panjang yang harus dilalui oleh Ibu Esra, menghidupi ketiga orang anak yang masih kecil sendirian, tanpa kehadiran seorang suami disisinya. Ditambah lagi dengan ketidakpedulian keluarga dari pihak suaminya yang pergi begitu saja tanpa memberi kabar apapun atau bahkan sekedar menanyakan kabar mereka hingga belasan tahun. Dimana ibu Esra harus rela melepaskan apa yang menjadi haknya, dalam hal ini adalah harta warisan suaminya, tak perlu ber-ekspektasi untuk membangun usaha, sesaat untuk dapat membantu ibu Esra dalam menghidupi tiga orang anaknya, atau yang dapat membantu kehidupan sehari-harinya saja tidak bisa, kehilangan apa yang seharusnya menjadi hak anak-anaknya.
Belasan tahun Ibu Esra menghadapi semuanya dengan senyum, berhutang kesana kemari, dengan pandangan rendah dan remeh tetangga-tetangga sekitar, berhidang nasi hangat dengan paduan ikan asin dalam hari-hari, menghadapai tingkah nakal anak-anak kecilnya dengan balutan senyum sederhana namun tulus, baju baru adalah hal langka, dan sebungkus chiki adalah hal yang sangat mewah bagi ketiga anak tulus ini. Hari berganti hari, namun pohon kehidupan ini belum juga memunculkan buahnya, kering namun tetap terus bertahan ditengah padang pasir yang kering.
Sekarang, anak-anak ini telah bertambah besar, tubuh ibu Esra pun bertambah renta, pohon itu mulai menunjukkan buah. Anak tertua telah beranjak dewasa, menunjukkan tanggung jawab terhadap orangtua satu-satunya, mulai berdiri melawan keserakahan adik dari ayahnya, mulai berdiri memperjuangkan apa yang menjadi haknya untuk memperbaiki hidup yang selama ini dipandang hina orang sekitar. Tuhan tidak pernah tinggal diam, selalu ada pelangi setelah banyak hujan yang turun. Senyum memang tidak selamanya akan ada diwajah seorang insan, tapi senyum selalu menghiasi wajah seseorang dengan durasi yang tidak sama, dari yang sering sampai yang sangat jarang, tergantung bagaimana orang tersebut bisa menghadapi setiap persoalan yang datang dalam hidup. Apakah akan tetap tersenyum dan melaju ditengah badai hingga badai itu terlewati, ataukah berteduh ditengah badai tanpa berani untuk maju melawan badai dan akhirnya terperangkap dalam puing-puing kehidupan sampai memasrahkan diri. Kesabaran dan keteguhan hidup bahwa semua akan indah pada waktunya akan membawa senyuman yang semakin sering pada wajah tiap insan yang masih percaya dan memaknai hidup dengan baik.

II.  TEORI VIKTOR FRANKL
Viktor Emil Frankl dilahirkan dalam keluarga Yahudi pada tanggal 26 Maret 1905 di Austria dan meninggal dunia pada tanggal 02 September 1997 di Austria. Nilai-nilai dan kepercayaan Yahudi memiliki pengaruh yang kuat terhadap Frankl. Ini pulalah yang membuat Frankl memiliki minat yang besar didalam persoalan keagamaan, khususnya dalam konteks makna dari hidup. Dan merupakan seorang tokoh neurologi dan psikiater.
Viktor Emil Frankl merupakan penggagas dari aliran logotherapy, dimana Viktor Frankl dipengaruhi oleh teori Eksistensial. Logotherapy merupakan gabungan dari kata logos yang berarti meaning (makna), ini berarti logotherapy merupakan terapi yang melampauin makna, dimana selama kamu masih memiliki makna (arti) dari hidup, sesusah dan seberat apapun hidup yang kamu jalani, kamu pasti akan dapat melewatinya.
Landasan Filosofi dari Viktor Frankl:
1.     The Freedom of Will
Yaitu kebebasan seseorang untuk bertanggung jawab.
2.     The Will to Meaning
Merupakan motivasi dasar manusia yang tertuju kepada hal-hal dasar diluar diri individu itu sendiri sehingga The Will to Meaning ini tidak bersifat self-centered.
3.     The Meaning of Life
-       Dapat ditemukan dalam kehidupan manusia dan merupakan sesuatu yang unik, personal, dan juga spesifik.
-       The Meaning of Life tidak dapat kita terima dari orang lain ataupun diberikan oleh orang lain, sebab kita harus dapat menemukannya dengan diri kita sendiri.
Sumber Makna Hidup Menurut Viktor Frankl:
1.     Creative Values
Makna hidup seseorang hendaknya berasal dari berkarya, bekerja, menciptakan, dan melaksanakannya karena seorang individu memang mencintai apa yang dikerjakannya.
2.     Experiental Values
Bagaimana seorang individu meyakini dan memahami kebenaran yang ada, nilai-nilai keyakinan, keindahan, cinta kasih, serta keimanannya.
3.     Attitudinal Values
Bagaimana seorang individu dapat mengambil sikap dan langkah yang tepat dan pasti terhadap suatu peristiwa buruk yang menimpanya dan tidak dapat dihindarinya.

III.  PEMBAHASAN TEORI
Ibu Esra telah memiliki makna dalam hidupnya, dia telah memilih untuk bertanggung jawab menghidupi ketiga anaknya sendirian (The Freedom of Will), yang menjadi motivasi dalam hidupnya bukan lagi terletak dalam dirinya melainkan telah tertuju pada anak-anaknya (The Will to Meaning), bukan karena paksaan ataupun hal lainnya Ibu Esra memilih untuk dengan tulus, kasih sayang, dan tetap tersenyum merawat anak-anaknya (The Meaning of Life).

Bekerja keras dengan tulus tanpa keluhan (creative values), bertani dari pagi hingga sore hari, dengan peluh keringat disaat ibu-ibu sebayanya tidak bekerja sekeras ini (attitudinal values), namun tetap percaya bahwa semua ini kelak akan terbalaskan pada saat yang tepat (experiental values).

Schultz dan Schultz. 2005. Theories of Personality
http://www.referensimakalah.com/biografi-viktor-emil-frankl.htm?m=1

Analisis Kasus Berdasarkan Pada Teori Psikologi Positif (Viktor Frankl)

Analisis Kasus Berdasarkan Pada Teori Psikologi Positif (Viktor Frankl)

I.  KASUS
Ibu Esra berusia 47 tahun dan sehari-hari bekerja sebagai seorang petani. Dia memiliki 3 orang anak; dua orang anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Ibu Esra hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa tanpa hal berlebih.
Jalan hidup yang harus dihadapi oleh ibu Esra tidaklah mudah, bahkan analogi jalan berkerikil dan berlubang pun tidak dapat disandingkan dengan apa yang dialaminya didalam kehidupan. Dia harus menghidupi ketiga orang anaknya sendiri tanpa seorang suami yang sehearusnya menghidupi istri dan anaknya, tanpa ‘gubuk hangat’ yang dapat menjaga dari serangan hujan badai, atau bahkan tanpa seorang ‘Mario Teguh’ tempat bertukar pikiran saat persoalan datang menerpa.
Ya, suami ibu Esra telah lama meninngal dunia, hal ini menyisakan luka yang sangat mendalam bagi ibu Esra dan keluarganya. Suami ibu Esra meninggal akibat kecelakaan lalu lintas pada saat mengemudi mobil, ketika itu anak ketiga ibu Esra masih berusia 4 bulan. Hal yang menyedihkan adalah dihari ketika suaminya hendak dikuburkan, dihari tersebut pula anak ketiga ibu Esra dibaptiskan di Gereja, ibu Esra akhirnya mengambil keputusan untuk pergi ke gereja dengan menggendong bayinya untuk menerima baptisan kudus sejenak, lalu segera pulang ke rumah untuk melakukan prosesi penguburan suami tercinta.
Inilah awal dari perjalanan hidup yang sangat panjang yang harus dilalui oleh Ibu Esra, menghidupi ketiga orang anak yang masih kecil sendirian, tanpa kehadiran seorang suami disisinya. Ditambah lagi dengan ketidakpedulian keluarga dari pihak suaminya yang pergi begitu saja tanpa memberi kabar apapun atau bahkan sekedar menanyakan kabar mereka hingga belasan tahun. Dimana ibu Esra harus rela melepaskan apa yang menjadi haknya, dalam hal ini adalah harta warisan suaminya, tak perlu ber-ekspektasi untuk membangun usaha, sesaat untuk dapat membantu ibu Esra dalam menghidupi tiga orang anaknya, atau yang dapat membantu kehidupan sehari-harinya saja tidak bisa, kehilangan apa yang seharusnya menjadi hak anak-anaknya.
Belasan tahun Ibu Esra menghadapi semuanya dengan senyum, berhutang kesana kemari, dengan pandangan rendah dan remeh tetangga-tetangga sekitar, berhidang nasi hangat dengan paduan ikan asin dalam hari-hari, menghadapai tingkah nakal anak-anak kecilnya dengan balutan senyum sederhana namun tulus, baju baru adalah hal langka, dan sebungkus chiki adalah hal yang sangat mewah bagi ketiga anak tulus ini. Hari berganti hari, namun pohon kehidupan ini belum juga memunculkan buahnya, kering namun tetap terus bertahan ditengah padang pasir yang kering.
Sekarang, anak-anak ini telah bertambah besar, tubuh ibu Esra pun bertambah renta, pohon itu mulai menunjukkan buah. Anak tertua telah beranjak dewasa, menunjukkan tanggung jawab terhadap orangtua satu-satunya, mulai berdiri melawan keserakahan adik dari ayahnya, mulai berdiri memperjuangkan apa yang menjadi haknya untuk memperbaiki hidup yang selama ini dipandang hina orang sekitar. Tuhan tidak pernah tinggal diam, selalu ada pelangi setelah banyak hujan yang turun. Senyum memang tidak selamanya akan ada diwajah seorang insan, tapi senyum selalu menghiasi wajah seseorang dengan durasi yang tidak sama, dari yang sering sampai yang sangat jarang, tergantung bagaimana orang tersebut bisa menghadapi setiap persoalan yang datang dalam hidup. Apakah akan tetap tersenyum dan melaju ditengah badai hingga badai itu terlewati, ataukah berteduh ditengah badai tanpa berani untuk maju melawan badai dan akhirnya terperangkap dalam puing-puing kehidupan sampai memasrahkan diri. Kesabaran dan keteguhan hidup bahwa semua akan indah pada waktunya akan membawa senyuman yang semakin sering pada wajah tiap insan yang masih percaya dan memaknai hidup dengan baik.

II.  TEORI VIKTOR FRANKL
Viktor Emil Frankl dilahirkan dalam keluarga Yahudi pada tanggal 26 Maret 1905 di Austria dan meninggal dunia pada tanggal 02 September 1997 di Austria. Nilai-nilai dan kepercayaan Yahudi memiliki pengaruh yang kuat terhadap Frankl. Ini pulalah yang membuat Frankl memiliki minat yang besar didalam persoalan keagamaan, khususnya dalam konteks makna dari hidup. Dan merupakan seorang tokoh neurologi dan psikiater.
Viktor Emil Frankl merupakan penggagas dari aliran logotherapy, dimana Viktor Frankl dipengaruhi oleh teori Eksistensial. Logotherapy merupakan gabungan dari kata logos yang berarti meaning (makna), ini berarti logotherapy merupakan terapi yang melampauin makna, dimana selama kamu masih memiliki makna (arti) dari hidup, sesusah dan seberat apapun hidup yang kamu jalani, kamu pasti akan dapat melewatinya.
Landasan Filosofi dari Viktor Frankl:
1.     The Freedom of Will
Yaitu kebebasan seseorang untuk bertanggung jawab.
2.     The Will to Meaning
Merupakan motivasi dasar manusia yang tertuju kepada hal-hal dasar diluar diri individu itu sendiri sehingga The Will to Meaning ini tidak bersifat self-centered.
3.     The Meaning of Life
-       Dapat ditemukan dalam kehidupan manusia dan merupakan sesuatu yang unik, personal, dan juga spesifik.
-       The Meaning of Life tidak dapat kita terima dari orang lain ataupun diberikan oleh orang lain, sebab kita harus dapat menemukannya dengan diri kita sendiri.
Sumber Makna Hidup Menurut Viktor Frankl:
1.     Creative Values
Makna hidup seseorang hendaknya berasal dari berkarya, bekerja, menciptakan, dan melaksanakannya karena seorang individu memang mencintai apa yang dikerjakannya.
2.     Experiental Values
Bagaimana seorang individu meyakini dan memahami kebenaran yang ada, nilai-nilai keyakinan, keindahan, cinta kasih, serta keimanannya.
3.     Attitudinal Values
Bagaimana seorang individu dapat mengambil sikap dan langkah yang tepat dan pasti terhadap suatu peristiwa buruk yang menimpanya dan tidak dapat dihindarinya.

III.  PEMBAHASAN TEORI
Ibu Esra telah memiliki makna dalam hidupnya, dia telah memilih untuk bertanggung jawab menghidupi ketiga anaknya sendirian (The Freedom of Will), yang menjadi motivasi dalam hidupnya bukan lagi terletak dalam dirinya melainkan telah tertuju pada anak-anaknya (The Will to Meaning), bukan karena paksaan ataupun hal lainnya Ibu Esra memilih untuk dengan tulus, kasih sayang, dan tetap tersenyum merawat anak-anaknya (The Meaning of Life).

Bekerja keras dengan tulus tanpa keluhan (creative values), bertani dari pagi hingga sore hari, dengan peluh keringat disaat ibu-ibu sebayanya tidak bekerja sekeras ini (attitudinal values), namun tetap percaya bahwa semua ini kelak akan terbalaskan pada saat yang tepat (experiental values).

Schultz dan Schultz. 2005. Theories of Personality
http://www.referensimakalah.com/biografi-viktor-emil-frankl.htm?m=1

Analisis Kasus Berdasarkan Pada Teori Psikologi Positif (Viktor Frankl)

Analisis Kasus Berdasarkan Pada Teori Psikologi Positif (Viktor Frankl)

I.  KASUS
Ibu Esra berusia 47 tahun dan sehari-hari bekerja sebagai seorang petani. Dia memiliki 3 orang anak; dua orang anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Ibu Esra hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa tanpa hal berlebih.
Jalan hidup yang harus dihadapi oleh ibu Esra tidaklah mudah, bahkan analogi jalan berkerikil dan berlubang pun tidak dapat disandingkan dengan apa yang dialaminya didalam kehidupan. Dia harus menghidupi ketiga orang anaknya sendiri tanpa seorang suami yang sehearusnya menghidupi istri dan anaknya, tanpa ‘gubuk hangat’ yang dapat menjaga dari serangan hujan badai, atau bahkan tanpa seorang ‘Mario Teguh’ tempat bertukar pikiran saat persoalan datang menerpa.
Ya, suami ibu Esra telah lama meninngal dunia, hal ini menyisakan luka yang sangat mendalam bagi ibu Esra dan keluarganya. Suami ibu Esra meninggal akibat kecelakaan lalu lintas pada saat mengemudi mobil, ketika itu anak ketiga ibu Esra masih berusia 4 bulan. Hal yang menyedihkan adalah dihari ketika suaminya hendak dikuburkan, dihari tersebut pula anak ketiga ibu Esra dibaptiskan di Gereja, ibu Esra akhirnya mengambil keputusan untuk pergi ke gereja dengan menggendong bayinya untuk menerima baptisan kudus sejenak, lalu segera pulang ke rumah untuk melakukan prosesi penguburan suami tercinta.
Inilah awal dari perjalanan hidup yang sangat panjang yang harus dilalui oleh Ibu Esra, menghidupi ketiga orang anak yang masih kecil sendirian, tanpa kehadiran seorang suami disisinya. Ditambah lagi dengan ketidakpedulian keluarga dari pihak suaminya yang pergi begitu saja tanpa memberi kabar apapun atau bahkan sekedar menanyakan kabar mereka hingga belasan tahun. Dimana ibu Esra harus rela melepaskan apa yang menjadi haknya, dalam hal ini adalah harta warisan suaminya, tak perlu ber-ekspektasi untuk membangun usaha, sesaat untuk dapat membantu ibu Esra dalam menghidupi tiga orang anaknya, atau yang dapat membantu kehidupan sehari-harinya saja tidak bisa, kehilangan apa yang seharusnya menjadi hak anak-anaknya.
Belasan tahun Ibu Esra menghadapi semuanya dengan senyum, berhutang kesana kemari, dengan pandangan rendah dan remeh tetangga-tetangga sekitar, berhidang nasi hangat dengan paduan ikan asin dalam hari-hari, menghadapai tingkah nakal anak-anak kecilnya dengan balutan senyum sederhana namun tulus, baju baru adalah hal langka, dan sebungkus chiki adalah hal yang sangat mewah bagi ketiga anak tulus ini. Hari berganti hari, namun pohon kehidupan ini belum juga memunculkan buahnya, kering namun tetap terus bertahan ditengah padang pasir yang kering.
Sekarang, anak-anak ini telah bertambah besar, tubuh ibu Esra pun bertambah renta, pohon itu mulai menunjukkan buah. Anak tertua telah beranjak dewasa, menunjukkan tanggung jawab terhadap orangtua satu-satunya, mulai berdiri melawan keserakahan adik dari ayahnya, mulai berdiri memperjuangkan apa yang menjadi haknya untuk memperbaiki hidup yang selama ini dipandang hina orang sekitar. Tuhan tidak pernah tinggal diam, selalu ada pelangi setelah banyak hujan yang turun. Senyum memang tidak selamanya akan ada diwajah seorang insan, tapi senyum selalu menghiasi wajah seseorang dengan durasi yang tidak sama, dari yang sering sampai yang sangat jarang, tergantung bagaimana orang tersebut bisa menghadapi setiap persoalan yang datang dalam hidup. Apakah akan tetap tersenyum dan melaju ditengah badai hingga badai itu terlewati, ataukah berteduh ditengah badai tanpa berani untuk maju melawan badai dan akhirnya terperangkap dalam puing-puing kehidupan sampai memasrahkan diri. Kesabaran dan keteguhan hidup bahwa semua akan indah pada waktunya akan membawa senyuman yang semakin sering pada wajah tiap insan yang masih percaya dan memaknai hidup dengan baik.

II.  TEORI VIKTOR FRANKL
Viktor Emil Frankl dilahirkan dalam keluarga Yahudi pada tanggal 26 Maret 1905 di Austria dan meninggal dunia pada tanggal 02 September 1997 di Austria. Nilai-nilai dan kepercayaan Yahudi memiliki pengaruh yang kuat terhadap Frankl. Ini pulalah yang membuat Frankl memiliki minat yang besar didalam persoalan keagamaan, khususnya dalam konteks makna dari hidup. Dan merupakan seorang tokoh neurologi dan psikiater.
Viktor Emil Frankl merupakan penggagas dari aliran logotherapy, dimana Viktor Frankl dipengaruhi oleh teori Eksistensial. Logotherapy merupakan gabungan dari kata logos yang berarti meaning (makna), ini berarti logotherapy merupakan terapi yang melampauin makna, dimana selama kamu masih memiliki makna (arti) dari hidup, sesusah dan seberat apapun hidup yang kamu jalani, kamu pasti akan dapat melewatinya.
Landasan Filosofi dari Viktor Frankl:
1.     The Freedom of Will
Yaitu kebebasan seseorang untuk bertanggung jawab.
2.     The Will to Meaning
Merupakan motivasi dasar manusia yang tertuju kepada hal-hal dasar diluar diri individu itu sendiri sehingga The Will to Meaning ini tidak bersifat self-centered.
3.     The Meaning of Life
-       Dapat ditemukan dalam kehidupan manusia dan merupakan sesuatu yang unik, personal, dan juga spesifik.
-       The Meaning of Life tidak dapat kita terima dari orang lain ataupun diberikan oleh orang lain, sebab kita harus dapat menemukannya dengan diri kita sendiri.
Sumber Makna Hidup Menurut Viktor Frankl:
1.     Creative Values
Makna hidup seseorang hendaknya berasal dari berkarya, bekerja, menciptakan, dan melaksanakannya karena seorang individu memang mencintai apa yang dikerjakannya.
2.     Experiental Values
Bagaimana seorang individu meyakini dan memahami kebenaran yang ada, nilai-nilai keyakinan, keindahan, cinta kasih, serta keimanannya.
3.     Attitudinal Values
Bagaimana seorang individu dapat mengambil sikap dan langkah yang tepat dan pasti terhadap suatu peristiwa buruk yang menimpanya dan tidak dapat dihindarinya.

III.  PEMBAHASAN TEORI
Ibu Esra telah memiliki makna dalam hidupnya, dia telah memilih untuk bertanggung jawab menghidupi ketiga anaknya sendirian (The Freedom of Will), yang menjadi motivasi dalam hidupnya bukan lagi terletak dalam dirinya melainkan telah tertuju pada anak-anaknya (The Will to Meaning), bukan karena paksaan ataupun hal lainnya Ibu Esra memilih untuk dengan tulus, kasih sayang, dan tetap tersenyum merawat anak-anaknya (The Meaning of Life).

Bekerja keras dengan tulus tanpa keluhan (creative values), bertani dari pagi hingga sore hari, dengan peluh keringat disaat ibu-ibu sebayanya tidak bekerja sekeras ini (attitudinal values), namun tetap percaya bahwa semua ini kelak akan terbalaskan pada saat yang tepat (experiental values).

Schultz dan Schultz. 2005. Theories of Personality
http://www.referensimakalah.com/biografi-viktor-emil-frankl.htm?m=1